Friday, April 12, 2024
Legenda

Mitos Tionghoa tentang Terciptanya Alam Semesta dan Umat Manusia

InHua.Net – Tampaknya setiap peradaban dan kebudayaan memiliki kisahnya sendiri tentang penciptaan dunia dan awal mula umat manusia. Termasuk masyarakat Tionghoa juga begitu adanya.

Mitologi Tionghoa kuno mengisahkan tentang awal alam semesta dipenuhi kehampaan yang gelap gulita dan sunyi senyap. Kemudian muncullah Tokoh mitologis bernama Pangu untuk menciptakan ketertiban alam semesta seperti yang kita kenali saat ini.

Pangu Menciptakan Alam Semesta

Menurut kepercayaan orang Tionghoa, pada mulanya tidak ada apa pun di alam semesta kecuali kehampaan yang gelap dan tidak berbentuk. Pangu, yang telah tidur dalam kehampaan selama 18.000 tahun, terbangun. Ketika menyadari dirinya terkurung di kehampaan dan kesunyian yang gelap, dia memutuskan untuk keluar. Dengan kekuatan yang dahsyat, Pangu mengayunkan kapak raksasanya untuk membelah kehampaan. Tebasan kapaknya menyebabkan yang lebih ringan dan terang naik dan menjadi langit, sedangkan yang lebih berat tenggelam dan menjadi bumi.

Pangu menciptakan alam semesta.

Untuk menjaga agar langit dan bumi tetap terpisah, Pangu berdiri di antaranya dan mengerahkan seluruh tenaganya untuk menopang langit ke atas. Setiap hari langit semakin tinggi dan bumi semakin luas.

Setelah 18.000 tahun kemudian, Pangu  berpikir pekerjaannya telah rampung dan dia berbaring untuk beristirahat. Kemudian napasnya menjadi angin dan awan; suara menjadi guntur; mata kirinya menjadi matahari dan mata kanannya menjadi bulan; rambutnya menjadi bintang di langit; darahnya menjadi sungai dan danau; otot-ototnya menjadi tanah yang subur; tulangnya menjadi mineral; keringatnya turun menjadi hujan; dan bulunya menjadi hutan dan padang rumput. Itulah awal alam semesta.

Nüwa Menciptakan Manusia

Nüwa adalah tokoh dalam mitologi Tionghoa kuno yang dikenal sebagai pencipta manusia. Konon, Nüwa pada masa awal alam semesta tercipta, Nüwa menciptakan manusia dari tanah liat kuning.

Pada mulanya, dia memahat setiap manusia secara individual. Kemudian, dia menyadari dirinya membutuhkan cara yang lebih efisien untuk membuat lebih banyak manusia. Dia mencelupkan seutas tali ke tanah liat dan menjentiknya. Kemudian gumpalan tanah liat berserak di mana-mana dan gumpalan tanah berubah manusia. Itulah kepercayaan masyarakat tentang asal usul manusia.

Nüwa mencipta manusia.

Suatu saat terjadilah pertarungan antara Dewa Air Gonggong dan Dewa Api Zhurong. Setelah kalah dalam pertarungan, Gonggong membenturkan kepalanya ke Gunung Buzhou. Karena Gunung Buzhou adalah pilar yang menopang langit, langit mulai runtuh dan menyebabkan banyak kerusakan. Niscaya kaum manusia menderita atas runtuhnya langit tersebut.

Nüwa sangat mencintai rakyatnya sehingga dia memilih batu berwarna-warni di Gunung Tiantai dan menggunakannya untuk memperbaiki langit yang rusak. Dengan cara ini, kedamaian dan kebahagiaan kembali kepada umat manusia.

Sumber: 文化网

Penerjemah: Ependi Tan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *