Thursday, April 11, 2024
Tokoh Tionghoa

Gus Dur Bapak Tionghoa Indonesia

InHua.Net – Bagi warga Tionghoa di Indonesia, Presiden IV RepubIik Indonesia, Abdurrahman Wahid  alias Gus Dur, adalah tokoh berjasa besar yang senantiasa terpatri dalam sanubari. Beliau juga dinobatkan sebagai Bapak Tionghoa Indonesia.

Gus Dur mencabut larangan bagi warga Tionghoa menjalankan adat istiadat dan tradisi lewat Keputusan Presiden Nomor 6 Tahun 2006. Keputusan tersebut sekaligus mencabut Instruksi Presiden Nomor 14 Tahun 1967 tentang Agama, Kepercayaan, dan Adat Istiadat Tionghoa yang dikeluarkan Presiden Soerharto di masa Orde Baru.

Di peraturan lama, warga Tionghoa Indonesia tidak diperkenankan melakukan tradisi atau kegiatan adat istiadat secara terbuka dan hanya diperbolehkan di lingkungan keluarga. Kungkungan ini berlaku 32 tahun lamanya di era kepemimpinan Soeharto.

Saat itu, etnis Tionghoa bahkan diminta untuk menghapus identitas dirinya dengan mengganti nama Indonesia. Warga Tionghoa juga dilarang menjadi PNS, tentara, dan polisi. Mereka betul-betul dikucilkan secara politik dan sosial.

Gus Dur tak sepakat dengan pemikiran Soeharto. Maka, saat menjadi presiden usai Orde Baru tumbang, Gus Dur menghapus aturan diskriminasi terhadap warga Tionghoa.

Gus Dur menegaskan, etnis Tionghoa merupakan bagian dari bangsa Indonesia sehingga harus mendapatkan hak-hak yang setara, termasuk dalam menjalankan ibadah keagamaan.

Menurutnya, kalau ada yang mencerca etnis Tionghoa tidak aktif di masyarakat, itu karena tidak diberi kesempatan.

Gus Dur kemudian dinobatkan sebagai “Bapak Tionghoa Indonesia” berkat kebijakan dan pemikiran terbukanya yang membela hak-hak masyarakat Tionghoa.

Pemberian gelar diselenggarakan di Kelenteng Tay Kek Sie pada 10 Maret 2004.

Saat penobatan, Gus Dur hadir dengan menggunakan baju cheongsam, meski harus duduk di kursi roda.

Di sisi lain, Gus Dur kerap mengaku sebagai keturunan Tionghoa, yang juga bercampur dengan garis keturunan dari Arab dan India.

Gud Dur mengungkapkan dirinya memiliki darah yang diturunkan dari Putri Campa, yang menjadi selir Raja Majapahit Brawijaya V.

Dari perkawinan  ini, Putri Campa melahirkan dua anak, yakni Tan Eng Hian dan Tan A Hok. Tan Eng Hian mendirikan kerajaan Demak, yang kemudian berganti nama menjadi Raden Patah. Sedangkan, Tan A Lok menikah dengan seorang Tionghoa muslim bernama Tan Kim Han.

Dari jalur inilah, kemudian menurunkan Gus Dur dan keluarganya. Leluhur Gus Dur bernama Tan Kim Han asal Hokkian, yang ikut rombongan Laksamana Cheng Ho ke kerajaan Islam di Nusantara, pada kisaran 600 tahun yang lalu. 

Pengakuan Gus Dur itu juga dikuatkan oleh tokoh NU lainnya, Said Aqil Siradj.

Mantan Ketum PB NU ini bercerita, bahwa Tan Kim Han memiliki anak bernama Raden Rachmat Sunan Ampel.

Salah satu keturunannya adalah KH Hasyim As’ari yang selanjutnya memiliki anak bernama KH Wahid Hasyim. KH Wahid Hasyim adalah ayah Gus Dur.

“Jadi, Gus Dur itu Tionghoa, maka matanya sipit,” ujar Said Aqil dalam buku tentang riwayat Gus Dur.

Atas jasa-jasanya, Gus Dur sangat dihormati oleh etnis Tionghoa, dan masyarakat yang menganut pluralisme.

Saat Gus Dur berpulang pada 30 Desember 2009, bukan hanya warga NU yang merasa sedih. Banyak masyarakat Tionghoa merasa kehilangan sosok Gus Dur.

Hingga saat ini, makam Gus Dur masih sering didatangi warga Tionghoa. Foto mendiang Gus Dur masih terpampang di sejumlah kelenteng sebagai penghormatan masyarakat Tionghoa.

Sama seperti PKB, banyak kelompok dari kalangan etnis Tionghoa yang meminta agar Gus Dur dinobatkan sebagai pahlawan nasional.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *