Friday, April 12, 2024
Budaya

Sumpit, Filosofi Luhur Orang Tionghoa

InHua.Net – Sumpit, alat makan yang biasa digunakan di lingkungan budaya Asia Timur, termasuk Indonesia, ternyata bukan hanya sebuah perkakas makan semata. Bagi masyarakat Tionghoa, sumpit juga mengandung nilai filosofi, kebudayaan, dan kearifan nenek moyang yang luhur. Sejak zaman kuno, kebiasaan makan dengan sumpit tidak berubah selama ribuan tahun.

Ukuran Sumpit dan Artinya

Tetapi tahukah Anda, mengapa panjang standar sumpit adalah 7,6 inci (sekitar 22 hingga 24 sentimeter)? 7,6 inci melambangkan tujuh cita dan enam nafsu. Manusia secara kodrat mempunyai tujuh cita, yaitu gembira, marah, sedih, takut, cinta, benci, dan gairah (喜怒哀惧爱恶欲), dan enam nasfu, yang berasal dari, mata, telinga, hidung, mulut, badan, dan pikiran (眼耳鼻口身意).  Namun, manusia adalah makhluk termulia di atas bumi ini, derajatnya lebih tinggi dibandingkan dengan makhluk hidup lainnya. Makanya, manusia harus mampu mengendalikan perasaan dan hawa nafsunya.

Sumpit, benda yang terlihat biasa-biasa saja, menjadi sarana untuk memperingati manusia yang menggunakannya untuk mengendalikan diri. Inilah kecermatan dan kearifan nenek moyang masyarakat Tionghoa.

Taichi dan Yin Yang

Selain itu, sumpit jumlahnya dua atau sepasang. Inilah konsep Taichi dan Yin Yang. Taichi adalah satu, Yin dan Yang adalah dua. Sepasang sumpit melambangkan dua unsur yang berinteraksi. Segala sesuatu di dunia ini selalu terdiri atas dua kondisi yang berlawanan.

Kemudian, dua batang sumpit menjadi satu pasang, mengisyarakan kombinasi Yin dan Yang. Itulah lambang hasil yang sempurna. Saat menggunakan sumpit, yang satu aktif dan yang lainnya pasif; yang aktif adalah energi Yang, dan pasifnya energi Yin.

Konsep perpaduan dua menjadi satu adalah filosofi yang teramat penting bagi kehidupan masyarakat Tionghoa. Di dunia Barat, manusia dan dewa dipisahkan, keduanya adalah entitas yang berbeda. Dewa ya Dewa, manusia tak pernah bisa berubah menjadi dewa. Tetapi bagi masyarakat Tionghoa, dewa dan manusia bisa menyatu menjadi satu entitas. He Xiangu, Tieguai Li, Lu Dongbin, Sun Wukong, Zhu Bajie, dan lainnya adalah dewa sekaligus juga manusia.

Bentuk Sumpit

Sumpit berbentuk bulat di satu ujung dan persegi di ujung lainnya. Lingkaran melambangkan Langit, sementara persegi empat adalah simbol bumi (天圆地方). Perputaran waktu yang berdasarkan matahari dan bulan di langit selalu bersiklus, ibarat lingkaran yang berputar. Sementara bumi ditandai dengan empat arah angin, sehingga identik dengan persegi empat. Begitulah pemahaman masyarakat Tionghoa tentang prinsip-prinsip dasar alam semesta.

Oleh karena itu, manusia harus memegang prinsip hidup yang teguh, seperti bentuk persegi dari bumi. Tetapi pada waktu bersamaan, manusia juga harus lincah dalam berinteraksi dengan dunia luar, laksana langit yang disimbolkan dengan lingkaran yang terus berputar.

Cara Pegang

Ketika memegang sumpit, ibu jari dan jari telunjuk berada di atas, jari manis dan jari kelingking berada di bawah, dan jari tengah di tengah. Hal ini melambangkan tiga pilar semesta, yaitu langit, bumi, dan manusia(天地人三才), yang mencerminkan konsep hubungan manusia dan alam semesta yang dimiliki masyarakat Tionghoa.

Penggunaan sumpit, ini bukan hanya kebiasaan perilaku, tetapi juga memanifestasikan kualitas pendidikan seseorang. Sebagai contoh, saat makan orang tua mengajari anaknya untuk tidak mengetuk mangkuk dengan sumpit, karena itu adalah perilaku pengemis. Kemudian saat menggunakan sumpit, pantang bagi orang Tionghoa dengan memegangnya di bagian ujung. Juga tidak boleh hanya menahan bagian pangkal. Cara yang benar adalah memegang sumpit di dua pertiga dari bagian atas. Salah memegang sumpit akan terlihat konyol dan tak terdidik.

Selain itu, menancapkan sumpit ke makanan adalah perilaku tercela. Menurut adat istiadat Tionghoa, hal ini hanya dilakukan saat mempersembahkan dupa kepada orang yang sudah meninggal.

Saat makan, tidak sopan juga menunjuk-nunjuk orang lain dengan sumpit yang kita pegang. Terakhir, jika memainkan sumpit di atas piring saat makan, teguran dari orang tua pasti tak terhindarkan.

Disusun: Ependi Tan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *