Saturday, April 13, 2024
Budaya

Tradisi Bulan Hantu Orang Tionghoa

InHua.Net – Setiap tanggal 15 bulan 7 penanggalan Imlek, dikenal  masyarakat Tionghoa sebagai peringatan Festival Tiongguan atau 中元节. Di Indonesia, ada yang menyebutnya Festival Cioko atau Bulan Hantu, di mana ada kepercayaan bahwa dalam kurun waktu satu bulan ini, pintu alam baka terbuka dan hantu-hantu di dalamnya bebas bergentanyangan ke alam manusia.

Sehingga banyak orang melakukan ritual Po To untuk memberi persembahan buat roh-roh tersebut. Cioko dalam bahasa Mandarin adalah 斋孤 atau 施孤, artinya memberi makan untuk yang roh-roh yang sebatang kara atau tidak bertuan.

Sebutan Bulan Hantu sudah terbiasa dan cukup dipercayai luas walaupun sebenarnya tidak pas, karena asal muasal peringatan ini bukan tentang hantu.Keadaan demikian adalah akibat perpaduan dari tiga unsur yang sangat dominan dalam masyarakat Tionghoa, yaitu tradisi kepercayaan Tradisional, Taoisme, dan Buddhisme.

Dahulu, sebagai ungkapan rasa syukur, masyarakat agraris zaman kuno selalu melakukan peringatan atau perayaan apabila memasuki musim panen yang biasanya jatuh di musim gugur.Bulan 7 Imlek adalah awal dari musim panen, sehingga peringatan berupa sembahyang kepada dewa atau leluhur sering diadakan di bulan ini, baik oleh rakyat biasa maupun oleh penguasa. Ini adalah perilaku yang menunjukkan rasa syukur dan bakti kepada leluhur dan Dewata.

Setelah Taoisme berkembang pesat, perayaan ini digabungkan dengan peringatan hari kelahiran Penguasa Bumi Di Guan, salah satu dari 三官大帝, tiga dewata utama dalam Taoisme, yaitu Tian Guan menganugerahi rezeki, Di Guan mengampuni dosa, dan Shui Guan menanggulangi petaka. 天官赐福,地官赦罪,水官解厄。Di Guan mengampuni dosa dan bumi identik dengan alam baka dalam budaya Tionghoa, dengan demikian hari kelahirannya dipercaya sebagai masa untuk mengampuni dosa-dosa para arwah. Dari sini muncul kepercayaan tentang pintu neraka dibuka bebas pada tanggal 15 bulan 7 ini, diperingati dengan sembahyang Cioko, untuk memberi makan pada arwah2 yang bergentayangan itu.

Selain Taoisme, juga ada pengaruh Buddhisme dalam perayaan ini, karena umat Buddha Mahayana di Tiongkok memperingati Ulambana pada tanggal 15 Bulan 7 juga.Ulambana  berawal dari kisah Biksu Mongallana, salah satu siswa utama Buddha Sakyamuni, yang hendak menolong ibunya yang terlahir di alam peta, alam hantu kelaparan.  Caranya adalah memberi pindapata atau sedekah kepada orang-orang yang berkebajikan, terutama para biksu, sehingga amal pahalanya bisa dilimpahkan kepada ibunya, agar bisa terlahir kembali ke alam yang bahagia.

Jadi makna dari perayaan ini sebenarnya adalah penghormatan kepada leluhur dan penjamuan kepada yang membutuhkan seperti fakir miskin. Itulah inti dari perayaan Tiongguan, yang sama sekali bukan tak berkaitan dengan bulan Hantu.

Kemudian, perayaan cioko juga disebut dengan nama Sembahyang Rebutan, ini adalah pengertian yang salah. Setelah perayaan selesai, barang-barang persembahan terutama makanan, harus diberikan kepada fakir miskin. Namun karena ketidakpahaman kita, terjadilah rebutan saat pembagian makanan tersebut. Semoga penjelasan ini bisa membuat generasi muda Tionghoa di Indonesia lebih memahami makna di balik budayanya sendiri.

Disusun oleh Ependi Tan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *