Friday, April 12, 2024
Budaya

Budaya Tionghoa dan Busana Adat Indonesia

InHua.Net – Akulturasi antara 2 budaya atau lebih bisa kita temukan dengan mudah di Indonesia, contohnya akulturasi antara budaya indonesia dan budaya Tionghoa atau Cina. Proses ini sendiri telah berjalan sejak ribuan tahun silam dan masih bisa kita lihat hingga saat ini.

Akulturasi ini dimulai saat etnis Tionghoa mulai datang ke tanah nusantara untuk berdagang dimana pada perjalanannya juga ikut menyebarkan budayanya. Salah satu perpaduan kedua budaya tersebut bisa kita lihat pada gaya busana atau pakaian.

Akulturasi Budaya Tionghoa Pada Busana Adat Indonesia

1.      Motif Batik Lasem China di Rembang Jawa Tengah

Gaya busana yang dilahirkan dari akulturasi kedua budaya tersebut menciptakan motif yang khas dan model yang unik. Kita dapat melihatnya pada batik Lasem Tionghoa di daerah Rembang, Jawa Tengah. Perpaduan motif pakaian Tionghoa seperti motif naga dan karakteristik batik Indonesia berpadu dengan cantiknya.

Hal tersebut diakui langsung oleh Indrawati seorang perajin batik atau yang dikenal juga Bu Giok yang memang berasal dari keluarga pembatik. Kedua orang tuanya yaotu Thio Lin Nio dan Gouw Tjin Lian memang terkenal hebat dalam mencampur warna batik.

Bu Giok juga menyebutkan bahwa sarung dipengaruhi dari kain khas Tionghoa, akan tetapi sarung khas Indonesia kebanyakan menggunakan kain wiron. Karena lebih praktis dan santai membuat sarung banyak disukai masyarakat Indonesia.

2.      Kebaya Encim dan Baju Koko

Pendapat senada juga diungkapkan oleh Sebastian Gunawan seorang desainer ternama Indonesia, ia menyebutkan bahwa pengaruh budaya Tionghoa pada pakaian adat atau tradisional tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga di beberapa negara.

Ia juga menambahkan bahwa celana panjang juga berasal dari China yang kemudian dibawa ke masyarakat Eropa. Sama halnya dengan model Mandarin Collar atau kerah Mandarin juga merupakan pengaruh dari budaya Tionghoa.

Sedangkan pengaruhnya pada pakaian adat Indonesia bisa kita lihat pada kebaya encim dan baju koko yang dipengaruhi oleh berbagai faktor mulai dari budaya, politik, sosial, ekonomi hingga religi.

Hal tersebut dapat terjadi sebab budaya Tiongkok sendiri memang telah masuk ke Indonesia sejak ratusan tahun lalu. Di sisi lain, Jeremy Huang seorang Budayawan Tionghoa asal Cirebon juga menyebut kebaya encim juga merupakan hasil akultutasi budaya Indonesia dan Tionghoa. Disamping itu masih ada baju koko atau cheongsam.

Menurutnya akulturasi kedua budaya tersebut telah terjadi sejak abad ke 15 dan 16. Sebab sejak abad tersebut telah banyak warga Tionghoa yang telah lama menetap di Indonesia sehingga akulturasi merupakan sesuatu yang tidak dapat dihindari.

Perpaduan Warna Pakaian Budaya Tionghoa dan Indonesia

1.      Warna Cerah Merah Menyala Pada Batik Lasem

Akulturasi dua budaya ini juga mempunyai kesamaan yaitu pada motifnya yang sama-sama menggunakan warna yang cerah. Kita dapat melihatnya pada batik lasem yang didominasi oleh warna merah menyala.

Warna merah menyala sendiri dalam budaya Tiongkok melambangkan lima unsur dalam kehidupan yang saling mempengaruhi yaitu air atau udara, api, tanah, logam, kayu dan tanah. Selain melambangkan kemewahan, warna merah juga melambangkan kegembiraan serta keceriaan. Tidak hanya warna merah, warna kuning yang identik dengan emas juga kerap menjadi pilihan.

2.      Kombinasi Kreatifitas Warna di Bidang Fashion

Jeremy juga menambahkan bahwa pengaruh budaya Tionghoa masih akan terus berlangsung khususnya dalam bidang fashion. Bahkan kedepannya akulturasi akan semakin banyak terjadi karena tren yang selalu berubah dan tidak stagnan.

Bahkan tren pengulangan juga akan selalu ada seperti halnya tren back to fourty, fifty hingga sixty. Namun pengulangan ini akan dikombinasikan dengan berbagai hal baru karena kreativitas akan terus berkembang.

Penyusun: Fira Andani

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *