Sunday, July 21, 2024
Budaya

Festival Chong Yang

InHua.Net – Dalam tradisi Tionghoa, tanggal 9 bulan 9 penanggalan Imlek dirayakan sebagai Festival Chongyang atau Festival Sembilan Kembar 重阳节atau 重九节. Istilah Chongyang secara tertulis ditemukan pada masa sebelum Dinasti Han Timur. Perayaan ini juga dikenal sebagai Festival Krisan atau Seruni di Jepang.

Pada 1966, Taiwan mendedikasikan kembali hari raya tersebut sebagai “Hari Warga Lansia”, karena bagi orang Tionghoa, berbakti kepada orang tua adalah kebajikan atau pahala nomer Wahid, 百善孝为先, maka festival ini juga merupakan kesempatan untuk mengungkapkan rasa bakti dan hormat kepada orang tua yang telah membesarkan kita.

Jadi, dari mana asal usul Festival Chongyang? Apa saja tradisi yang dijalankan selama festival tradisional yang populer di dunia budaya Asia Timur ini?

Istilah ” Chongyang “, diyakini berdasarkan teori  yin_yang atau energi positif dan negatif dalam Kitab I Ching, di mana 6 adalah lambang angka berenergi Yin, sementara angka 9 sebagai lambang energi Yang.

Sembilan juga didefinisikan sebagai angka tertinggi dalam urutan bilangan bagi orang Tionghoa. Dan karena tanggal 9 bulan 9, terdapat angka kembar 9 yang melambangkan dua energi Yang bertemu, muncullah istilah Chongyang, yang artinya energi Yang Kembar, sehingga hari tersebut memiliki arti yang istimewa bagi masyarakat kuno,

Karena keistimewaan ini, masyarakat Tionghoa kuno yang agraris memanfaatkan hari baik tersebut untuk melakukan pemujaan kepada Sang Pencipta, sebagai bentuk syukuran atas panen yang didapatkan pada musim gugur. Selain itu, mereka juga melakukan pemujaan kepada leluhur pada perayaan tersebut.

Festival Penghormatan Lansia

Dalam bahasa Mandarin,   九九 “Sembilan-Sembilan” sama lafalnya dengan ,久久 “lama lama, yang bermakna langgeng, abadi, atau panjang umur, sehingga ada tradisi memuja leluhur dan melakukan aktivitas menghormati orang tua, agar segenap keluarga termasuk orang Tua diberkati dengan usia yang panjang.  Itu lah Chongyang disebut juga Festival Penghormatan Lansia.

Di Hong Kong dan Makau, selain Festival Ching Ming, masyarakat setempat juga melakukan ziarah makam pada saat Festival Chongyang. Tradisi pemujaan kepada sang Pengcipta dan leluhur di tanggal 9 bulan 9 ini terus dilestarikan dari zaman kuno hingga era moderen ini.

Menurut catatan sejarah, Festival Chongyang sudah dirayakan pada Periode Negara-Negara BerPerang atau penghujung dinasti Zhou, kemudian resmi ditetapkan sebagai festival rakyat pada Dinasti Tang .

Apa saja kegiatan tradisi yang dilakukan masyarakat Tionghoa di berbagai negara? Dan apa saja latar belakang kegiatan-kegiatan tersebut, mengapa dilakukan spt itu?

Ada satu Legenda, yaitu pada masa Dinasti Han Timur, di daerah Runan atau sekarang masuk wilayah Henan,  konon ada seorang pria bernama Huan Jing. Pada suatu tahun, wabah besar  tiba-tiba melanda daerah tinggalnya. Orang tuanya Huang Jing juga terserang wabah dan meninggal, dia pergi ke Gunung Tenggara untuk belajar ilmu. Gurunya Fei Changfang memberi Huan Jing sebuah pedang penakluk iblis untuk berlatih, dia pun melakukan latihan dengan tekun dan gigih. Suatu hari, sang guru memberitahunya: tanggal 9 bulan 9, wabah akan datang lagi, Huang Jing sudah bisa kembali dan mengatasi malabahaya tersebut.  Sang Guru memberinya sebungkus daun cornel dan sebotol arak bunga krisan, dan berpesan semua orang kampung halamannya naik ke tempat tinggi untuk menghindari wabah. 

Pulanglah Huang Jing  ke kampung halamannya. Pada tanggal 9 bulan 9, dia membawa penduduk desa naik ke gunung terdekat dan bagikan daun cornel kepada semua orang, akhirnya iblis wabah tidak berani mendekat. Mereka juga minum arak bunga seruni yang dibawa Huang Jing untuk mengusir wabah. 

Huang Jing kemudian bertarung dengan iblis wabah dan akhirnya berhasil menaklukkannya, hilanglah wabah sejak itu. Orang-orang di kedua sisi Sungai Ru secara turun-temurun memperingati legenda ini setiap tanggal 9 bulan 9 dengan naik ke dataran tinggi untuk menghindari bencana.

Konon, Sejak itu, orang-orang merayakan Festival Chongyang dan memiliki kebiasaan naik ke tempat tunggi, memasang daun cornel dan minum arak Krisan untuk  mengusir roh jahat dan bencana.

Tentu legenda di atas tidak tercatat dalam sejarah resmi dan beredar sebagai cerita rakyat diwariskan secara turun-temurun oleh sebagian orang Tionghoa yang mempercayainya.

Namun beberapa kegiatan tradisi yang dilakukan selama festival Chongyang mempunyai makna yang lebih rasional setelah ditelusuri secara ilmiah.

Apa saja? Coba kita simak bersama-sama.

  1. pemujaan leluhur

Festival Chongyang beserta Malam Tahun Baru, Festival Musim Semi, Festival Qingming, Festival Perahu Naga, Festival Tiongguan dijadikan sebagai momen pemujaan leluhur dalam tradisi Tionghoa. Memuja leluhur adalah tema paling penting yang mengiringi perayaan² tradisi.

  • Naik ke tempat tinggi dan memohon keberuntungan

Pada hakikatnya, kegiatan pendakian di alam terbuka semacam ini mempunyai arti “Ciqing”, yaitu menghantar kepergian kehijauan alam. Ini berlawanan dengan kegiatan “Taqing” saat musim semi, yaitu pergi ke alam terbuka untuk menyambut datangnya kehijauan alam, karena pada musim semi tetumbuhan mekar kembali, dan warna hijau menjadi warna yang paling dominan. Berbeda pada bulan 9 yang sudah masuk ke musim gugur, tanaman dan tetumbuhan pada mulai dipanen atau gugur, warna hijau di alam sudah mulai menghilang, sehingga “Ciqing” bermakna menghantar kepergian warna hijau di alam ini.

Kemudian, bagi masyarakat Tionghoa tempo dulu, gunung atau bukit adalah tempat huni para dewa yang sangat sakral, sehingga naik ke gunung adalah kesempatan untuk memohon keberuntungan untuk diri sendiri dan keluarga

  • Memasang daun cornel dan menikmati arak bunga seruni. Daun cornel dipasang di tangan atau bagian tubuh yang lain untuk menghindari musibah dan arak seruni dipercaya dapat mengusir roh jahat.
  • Menghormati yang Lanjut Usia

Di zaman modern, Festival Chongyang telah diperingati sebagai Hari Penghormatan untuk Lansia.

Seperti dijelaskan di depan,Karena “sembilan” adalah angka terbesar, dan 9 九九 adalah homonim untuk waktu yang lama 久久, angka ganda 9 diartikan sebagai umur yang panjang untuk orang tua.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *